Jumat, 11 Desember 2009

MENCARI SOLUSI PENGURANGAN DAMPAK BURUK PERMASALAHAN REMAJA

disusun oleh : dr.Yunike RH


1. PENDAHULUAN

Remaja di Indonesia mencakup seperempat dari seluruh jumlah penduduk di Indonesia. Mengingat remaja adalah merupakan masa transisi dari masa kanak-kanak menuju dewasa maka remaja memiliki tugas perkembangan yang tidak mudah. Mereka harus mendapatkan identitas diri yang positip agar dapat berkembang sebagai dewasa muda yang sehat dan produktif.
Remaja memiliki karakteristik yang khas. Remaja cenderung Energik, selalu ingin tahu, emosi yang tidak stabil, cenderung berontak dan mengukur segalanya dengan ukurannya sendiri dengan cara berpikirnya tidak logis. Hal ini sering menyebabkan adanya konflik dengan orangtua, guru maupun figur otoritas lainnya. Namun demikian tahap yang memang harus dilalui oleh remaja dalam mencari identitas dirinya.
Dalam perkembangannya remaja sangat rentan terhadap pengaruh lingkungan. Lingkungan sosial dan budaya yang tidak positip merupakan faktor resiko bagi remaja untuk terjebak dalam perilaku merokok, minum-minuman keras, penggunaan narkoba, seks sebelum menikah, tawuran, kriminal, kebut-kebutan di jalan. Semua perilaku remaja yang dianggap menyimpang ini sangat berisiko terhadap kesehatan dan keselamatan remaja.


II. LATAR BELAKANG MASALAH

Dari hasil penelitian yang dilakukan Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi Univ.Indonesia (FKUI) di 4 wilayah yaitu Sumatera Selatan, Jawa Barat, Kalimantan Barat dan Nusa Tenggara Timur, diketahui bahwa perilaku beresiko pada remaja khususnya di kota cukup tinggi, dimana terdapat perilaku merokok 73,1% (laki-laki), 12,2% (perempuan), Miras 42,2%(laki-laki), 3% (perempuan), Pengguna Napza 22,4% (laki-laki) dan 2,3% (perempuan), seks sebelum menikah 4,7% (laki-laki) dan 3,2 % (Perempuan)
Dengan jumlah populasi yang mencapai seperempat penduduk di Indonesia maka permasalahan yang timbul akan menjadi sedemikian besarnya namun hingga saat ini penanganan masalah remaja masih bersifat terkotak-kotak dan parsial sehingga masalah remaja belum mendapat penanganan yang optimal.1
Propinsi Jawa Barat termasuk daerah yang paling banyak kasus HIV/AIDS di Indonesia selain Propinsi DKI, Papua, Jawa Timur, Nusa Tenggara dan Bali serta Riau dan 16 % dari seluruh kasus HIV/AIDS di Jawa Barat berusia remaja 15 – 19 tahun.Kabupaten Tasikmalaya menduduki urutan ketiga setelah kota Bandung dan kota Bekasi se propinsi Jawa Barat dalam hal kasus HIV positif.2
Kasus-kasus yang terjaring di Klinik Remaja Puskesmas DTP Ciawi menunjukkan gambaran peningkatan kasus remaja bermasalah dari tahun ke tahun. Misalnya kasus Penyakit Menular Seksual (PMS) pada tahun 2003 terjaring 3 orang, tahun 2004 terdapat 5 orang dan tahun 2005 sebanyak 17 orang remaja. Kasus kehamilan yang tidak dikendaki (KTD) dan abortus pada remaja tiap tahun angkanya selalu ada terjaring.
Awal Tahun 2005 pernah dilakukan Survey Cepat pada 100 responden remaja sekolah di wilayah Tasik Utara dengan hasil 39% remaja merokok,12% merokok dan menggunakan narkoba, 9% remaja pernah melakukan hubungan seks sebelum menikah. Gambaran ini tidak sepenuhnya akurat, bahkan seperti fenomena gunung es hanya sedikit yang muncul di permukaan tetapi kenyataan mungkin angkanya akan lebih besar.3
Remaja memperoleh informasi mengenai kesehatan reproduksi antara lain masalah pacaran, hubungan sexual, kehamilan, penyakit kelamin dll 30 % diperoleh dari orangtua / wali sementara 71 % mereka memperoleh informasi dari teman-temannya.

III. PEMECAHAN MASALAH

Pada tahun 2004 Puskesmas DTP Ciawi Kabupaten Tasikmalaya ditunjuk menjadi salah satu distrik model PKRE (Pelayanan Kesehatan Reproduksi Esensial) terpadu dari 4 Propinsi yang dipilih dalam pengembangan model PKPR (Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja).Dengan kordinasi yang baik maka terbentuklah Kecamatan Peduli Remaja yang dituangkan dalam SK Kec.Ciawi No. 413.2/SK.15/Kec./2004 tanggal 28 Oktober 2004. Pada awalnya PKPR ini berjalan baru sebatas penjaringan kasus dan penyuluhan pada kelompok-kelompok remaja sedangkan tindak lanjut pada remaja-remaja yang terjaring bermasalah dan beresiko belum ada wadah yang serius menanganinya padahal sudah banyak anggota masyarakat yang berminat dan melakukan pendampingan pada remaja bermasalah secara terpisah. Berdasarkan kebutuhan tersebut kemudian dikembangkan bentuk kelanjutan PKPR ini berupa konsep Kelompok Peminat Kesehatan Reproduksi Remaja (KPKRR) pada bulan febuari 2006 di klinik remaja Puskesmas DTP Ciawi Kabupaten Tasikmalaya .
KPKRR merupakan konsep pengembangan dari pojok remaja yang sudah terbentuk untuk meningkatkan derajat kesehatan remaja melalui peningkatan pengetahuan, sikap dan perilaku tentang kesehatan remaja tetapi lebih memfokuskan pada remaja-remaja yang sedang atau sudah bermasalah.
KPKRR bagi remaja bermasalah / beresiko mempunyai konsep dibina oleh oleh semua anggota masyarakat yang berminat terhadap Kesehatan Reproduksi Remaja dan masa depan generasi penerus bangsa, selain itu juga merangkul remaja-remaja yang pernah dan sedang mengalami masalah Kesehatan Reproduksi.


3.1. TUJUAN DAN SASARAN

3.1.1. TUJUAN UMUM :
Meningkatkan derajat Kesehatan Remaja melalui Peningkatan Pengetahuan , Sikap dan Perilaku tentang Kesehatan Remaja dengan melibatkan Partisipasi Masyarakat

3.1.2. TUJUAN KHUSUS
3.1.2.1. Meningkatkan pengetahuan, ketrampilan dan perubahan sikap masyarakat peminat kesehatan reproduksi remaja dalam memberikan pendampingan pada remaja bermasalah dan beresiko.
3.1.2.2. Meningkatan pengetahuan, sikap dan perilaku remaja yang bermasalah dan beresiko.
3.1.2.3. Memantapkan langkah kelompok peminat kesehatan reproduksi remaja dalam satu kordinasi.
3.1.2.4. Perluasan jangkauan pelayanan kesehatan di luar gedung pada remaja sekolah maupun remaja putus sekolah.

3.1.3. SASARAN
3.1.3.1. Remaja adalah mereka yang mencakup usia 10-19 tahun dan belum menikah (DEPKES RI tahun 2001).
a. Remaja Beresiko
Remaja beresiko adalah remaja yang pernah melakukan perilaku yang beresiko bagi kesehatan, seperti misalnya merokok, minum-minuman keras, menggunakan narkoba dan melakukan seks diluar nikah. Umumnya remaja yang memiliki masalah di sekolah atau berperilaku anti social memiliki probabilitas yang lebih besar untuk melakukan perilaku beresiko dibandingkan dengan remaja yang tidak memiliki masalah di sekolah atau tidak bersikap anti social. Remaja beresiko harus diberikan panutan serta kesempatan perkembangan yang positip. Oleh karena itu melibatkan remaja dalam perencanaan dan pelaksanaan intervensi khususnya di tempat-tempat remaja berkumpul menjadi sangat diperlukan.
b. Remaja Bermasalah
Remaja bermasalah adalah remaja yang telah melakukan perilaku beresiko dan sudah mengalami dampaknya. Atau remaja yang mengalami tindak kekerasan. Oleh karena itu remaja ini bukan saja harus mendapatkan pelayanan medis namun juga dibantu untuk menyelesaikan masalahnya secara komprehensif. Untuk itu pelayanan kesehatan remaja dan jejaring menjadi sangat diperlukan.

3.1.3.2. Masyarakat Umum yang berminat terhadap Kesehatan Reproduksi Remaja dan Masa depan genarasi penerus bangsa.

3.2. STRATEGI OPERASIONAL KELOMPOK PEMINAT KESEHATAN REPRODUKSI REMAJA ( KPKRR )
3.2.1. Meningkatkan ketrampilan masyarakat Peminat Kesehatan Reproduksi Remaja dalam memberikan pendampingan pada remaja bermasalah dan remaja beresiko.
3.2.2. Melaksanakan Pelayanan Kesehatan Reproduksi Remaja sesuai dengan kebutuhan spesifik remaja bermasalah atau remaja beresiko berdasarkan hasil identifikasi.
3.2.3. Membangun satu kordinasi yang baik pada Kelompok Peminat Kesehatan Reproduksi Remaja.

3.3. LANGKAH-LANGKAH KEGIATAN PEMBENTUKAN KELOMPOK PEMINAT KESEHATAN REPRODUKSI REMAJA
3.3.1. Perencanaan
3.3.1.1. Mengumpulkan masyarakat Peminat Kesehatan Reproduksi Remaja yang tersebar di wilayah Tasik Utara.
3.3.1.2. Mendiskusikan bersama-sama untuk mendapatkan kesepakatan konsep KPKRR.
3.3.1.3. Mengumpulkan data kasus remaja beresiko dan remaja bermasalah di Tasik Utara.
3.3.1.4. Membuat daftar prioritas masalah berdasarkan jenis masalahnya.
3.3.2. Pembentukan Kelompok Peminat Kesehatan Reproduksi Remaja (KPKRR).
Pembentukan KPKRR ini merupakan suatu tim yang independent dan bersifat sukarelawan yang mempunyai komitmen tinggi terhadap masa depan remaja sebagai generasi penerus bangsa.
3.3.3. Persiapan KPKRR
Sebelum memberikan pelayan kesehatan reproduksi remaja pada remaja bermasalah atau remaja beresiko maka KPKRR ini diberikan pelatihan-pelatihan konseling remaja serta bersedia mengembangkan pengetahun mengenai masalah remaja.
Untuk melakukan kegiatan KPKRR diperlukan tempat khusus yang dapat digunakan sebagai tempat pertemuan dan diskusi para Peminat Kesehatan Reproduksi Remaja dan juga dapat digunakan sebagai tempat konsultasi yang aman dan terjamin privasi para remaja yang bermasalah dan beresiko.
Diperlukan juga persiapan dan kesedian KPKRR untuk melayani remaja di luar jam kerja karena umumnya remaja ingin melakukan konsultasi secara rahasia.
3.3.4. Pelaksanaan
Fokus utama dari konsep KPKRR ini adalah masalah-masalah yang sedang dialami remaja dapat terselesaikan sesuai dengan bidang, minat, dan kompetensi masing-masing remaja yang bermasalah atau beresiko.
Remaja membutuhkan pelayanan KPKRR dengan biaya gratis, selain itu masalah yang dialami remaja merupakan masalah multidimensi sehingga membutuhkan penanganan khusus dari berbagai sektor. Dan yang terpenting adalah remaja mendapatkan pendampingan dengan mengutamakan “Terjaminnya Kerahasiaan”.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar